Antara Bangsa Arab, Amerika, Eropa dan Israel

Dr. Ahmad Qadidi

Pertanyaan yang diajukan seorang wartawan muda di TV Perancis pada Sabtu kemarin kepada penulis adalah sebagai berikut; Apa yang berubah dari KTT Arab di Doha Maret 2009 dengan KTT Arab di Sirte 2010? Karena penulis diundang KTT Doha sebagai pengamat dan penulis tidak mendapatkan agenda kerja KTT Sirte untuk disampaikan kepada Eropa maka jawaban saya hanya menghindar dari pertanyaan bukan menghadapi kenyataan.

Sebagai bangsa Arab apa yang bisa kita katakan agar kepada orang yang mengamati kita? Sebab kenyataannya memang tidak berubah pada kita selama setahun kecuali hanya tragedy dan tragedy. KTT Doha dulu hanya mengecam kejahatan agresi Gaza dan pembunuhan anak-anak, wanita, kaum sipil yang tak berdosa dengan jumlah ribuan. Sementara KTT Sirte hanya mengecam kejahatan yahudisasi Al-Quds.

Saya kira – jika Allah menakdirkan kita hidup- KTT Arab selanjutnya tanpa ragu pasti akan mengecam kejahatan Israel yang lainnya.

Namun sebagai penghormatan terhadap tabiat sejarah, harus jujur kita katakan bahwa yang berubah dari ke tahun adalah sikap Washington dan Uni Eropa terhadap politik Israel sementara kondisi Arab tidak berubah.

Meski akhirnya Amerika mundur dari sikap menekan Israel membekukan permukiman yahudi, Eropa juga menekan Israel agar membeukan pemukiman serta presiden Sarkozi juga mengancam akan mengumumkan berdirinya negara Palestina sebelum perundingan, tapi peringatan seorang komandan pasukan Israel dan NATO Jenderal Pitrewes pada Jumat lalu cukup memberikan isyarat kuat perubahan di atas. Jenderal itu mengatakan, “Jika Netanyahui melanjutkan permukiman maka itu akan menimbulkan konflik baru antara Palestina dan Israel dan pasti akan berimbas langsung kepada nyawa pasukan kami di Afganistan dan Irak.” Kekhawatiran yang sama disampaikan oleh editorial Law Mondy Diplomatic Paris tulisan pemikir Yahudi Perancis yang terkenal paling obyektif mengkritik politik Israel.

Di sisi lain, opini umum barat saat ini mulai berubah dalam menilai Israel sebab dampak arogansi Israel dianggap mulai mengganggu kepentingan barat. Hingga akhirnya terbit buku Amerika dengan judul “Lobi Israel dan Politik Luar negeri Amerika” karya John Misyem dan Steven Walt dan sebelum terbit buku karangan Jimmy Carter “Palestina Damai bukan Diskriminasi Etnis”.

Kenyataan ini mulai digerakkan oleh diplomat Amerika dan Eropa untuk konfrontasi dengan pemerintah Netanyahu. Bukan berangkat dari moral politik atau dari sisi kebangkitan nurani barat. Namun mereka berangkat dari rasa kasihan terhadap bansga Arab yang mengalami berbagai penderitaan akibat penjajahan sejak 60 tahun lalu.

Perubahan inti dalam peta masalah memang terjadi. Namun kita lupa bahwa Obama pernah bilang dalam kampanyenya bahwa ia mendukung keputusan Israel menjadikan Jerusalem sebagai ibukota abadi Israel yang tidak bisa dibagi-bagi. Kita juga luka bahwa program nuklir militer Israel adalah produk Eropa dan bukan Amerika.

Seharusnya KTT Arab di Sirte minimal mampu menganulir parakarsa damai Arab dengan Israel. Sebab sejak prakarsa raja Abdullah tersebut diadopsi Arab sejak diprolamirkan, Palestina hanya mengalami perang penghancuran dari Israel yakni terhadap Gaza yang menelan 1700 warga Gaza dibantai, tembok baja dibangun, perlintasan ditutup dan terowongan bawah tanah dihancurkan. Sementara pemukiman yahudi dibangun dan pejuang perlawanan dibunuhi sementara tangan kita masih diulurkan untuk berdamai. (bn-bsyr)

infopalestina

Posted by Abul Ezz on 08.06. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0

0 komentar for �Antara Bangsa Arab, Amerika, Eropa dan Israel�

Leave comment

dailyvid

FLICKR PHOTO STREAM

2010 BlogNews Magazine. All Rights Reserved. - Designed by SimplexDesign