Mampukah Netanyahu Wujudkan Ambisinya?
Analisana 07.10
Oleh: Patric Cell
Ittihad Emirat
Semua orang setuju, ekstrimis yahudi Netanyahu tidak akan mau berdamai dengan Palestina atau bahkan Suriah. Atau minimal jenis perdamaian yang berarti “tanah kembali kepada pemiliknya”. Sebab koalisi ekstrim kanan yahudi yang mengendalikan Netanyahu tidak memperkanan untuk itu. Namun apakah dengan demikian ia lantas ingin menggelar peperangan?
Itu juga diragukan. Netanyahu paling popular dalam jajak pendapat dibanding semua politikus lainnya. Koalisi yang dipimpinnya relative stabil. Sementara oposisi Israel mengalami perpecahan. “Poros Pengusung Perdamaian hampir tidak ada. Israel tidak menghadapi tantangan dari tetangganya. Ekonominya pun berkembang dengan pesat.
Semua kondisi itu tidak mendukung untuk memanggil kembali pasukan dan komandan cadangan Israel dalam jumlah besar untuk menggelar perang yang diinginkan oleh ekstrim kanan. Kini mereka sibuk menghimpun uang dalam kehidupan sipil meeka. Mereka menikmati hidup mereka di pantai-pantai untuk menghindari musim panas saat ini di Israel.
Jadi, selama Netanyahu tidak ingin perang, selama factor-faktor pendorong peperangan tidak menarik - minimal sekarang – bagi mayoritas bangsa Israel, maka kesimpulannya adalah PM Israel itu akan bahagia dengan “realita sekarang”.
Namun jarang terjadi kondisi politik seperti ini bertahan lama. Sehingga ini menuntut para elit politik untuk siap berhadapan dengan peristiwa yang tidak diduga.
Muncul pertanyaan lain, apa yang bisa ditebak dari keinginan Netanyahu sebagai sosok yang sangat benci terhadap terhadap Hamas di Gaza dan Hizbullah di Libanon yang dianggap dua gerakan yang mengancam Israel?
Untuk mendahului perundingan perdamaian serius dengan Palestina, agaknya Netanyahu serius ingin menggagalkan rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah. Sebab jika terjadi rekonsiliasi maka mereka akan menjadi Palestina bersatu. Ini agaknya yang membuat Netanyahu – dalam setiap pertemuan Israel dengan mediator soal tawanan serdadu Shalit – menolak pembebasan Marwan Barghoti, pimpinan karismatik yang diyakini banyak orang bisa menyatukan faksi-faksi Palestina.
Ini agaknya pula yang membuat enam skandal korupsi terbongkar di kalangan asisten dekat Abbas yang tampaknya sudah dirancang oleh badan keamanan Israel. Pembunuhan terhadap elit Hamas al-Mabhuh tanpaknya juga dibuat untuk mengacaukan barisan Palestina.
Setelah berjanji balas dendam atas kematian al-Mabhuh, diperkirakan Hamas sedikit condong mendukung strategi Abbas dalam perundingan. Keterlibatan sebagian orang Palestina makin membuat suasana menegangkan.
Bagaimanapun, Netanyahu berjanji tidak akan membebaskan blokade Gaza selama Hamas ada di sana. Apalagi mayoritas Israel tidak peduli dengan penderitaan yang dialami oleh bangsa Palestina yang diblokade. Blokade makin keras efeknya setelah dibangun tembok baja di sepanjang perbatasan Mesir – Jalur Gaza. Sebab tembok baja itu akan mengancam perdagangan di bawah terowongan yang selama ini mempertahankan hidup warga Jalur Gaza. Inilah cara Netanyahu menghabisi Hamas yang dianggap ancaman.
Sementara Hizbullah dianggap menjadi ancaman lebih rumit. Gerakan rakyat Libanon yang satu ini tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari poros ancaman utama sejak beberapa tahun di kawasan Timteng bagi hegemoni Amerika dan Israel. Seperti dilansir oleh mingguan TTE Mond Areb di Paris jornal khusus urusan strategi dunia Arab, ada 110 rudal Fatih milik Iran yang jarak jelajahnya antara 200 – 250 KM yang bisa melintasi Suriah menuju Hizbullah. Rudal itu dipasang di lembah-lembah landai.
Untuk mengacak-acak poros ancaman ini, Netanyahu berusaha mengkristalkan kepeduliannya untuk menghimpun kekuatan dunia melawan Iran. Caranya, menggambarkan program nuklir Iran sebagai ancaman eksistensi Israel. Mungkin Israel dalam hal ini cukup berhasil. Salah satu buktinya, catatan Obama tidak melanjutkan pendekatan dengan Iran dan berusaha menerapkan sanksi dunia yang lebih tegas terhadap Iran.
Suriah juga menjadi bidikan Israel. Ada arus di dinas pertahanan dan intelijen Israel berusaha berdamai dengan Damaskus. Alasan mereka; jika Suriah bisa diajak berdamai, maka itu akan melemahkan poros Iran – Damaskus – Hizbullah, mengisolasi Iran dan melemahkan Hizbullah. Untuk Palestina, setelah mereka harus pembelanya, Suriah, mereka akan terpaksa menerima apapun bagian mereka. Sebagian pengamat politik menegaskan, kembalinya dataran tinggi Golan ke Suriah akan menjadi harga logis yang dibayat Israel sebagai kompensasi pencapaian strategis.
Tapi Netanyahu tidak akan siap melepaskan dataran tinggi Golan. Suriah bisa jadi tidak sepakat menggelar perdamaian sepihak. Bagi suriah, kembalinya Golan, tidak akan meyakinkannya untuk melepaskan diri dari koalisi dengan Iran, Libanond dan Palestina kemudian membiarkan kawasan menjadi hegemoni Israel untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.
Meski situasi sekarang berpihak kepada Netanyahu, tapi tetap tidak akan stabil seperti yang diinginkan PM Israel ini. (bn-bsyr)