Intifadhah III

Muhammad Jamal Arafah

Tahun 1987 meletus Intifadhah Palestina pertama yang terencana. Semua faksi Palestina terlibat dalam perjuangan ini, terutama Fatah dan Hamas. Inilah Intifahdh Batu yang menelan korban syuhada 1300 warga Palestina dan 160 Israel tewas. Ini terjadi di tengah kemandengan sikap elit politik Palestina dan berlanjutnya kejahatan Israel.

Sesuai rencana, Intiafadhah kali ini menggulirkan masalah Palestina dengan kuat dan menguncang masyarakat Israel agar bisa menyelesaikan masalah ini. Intifadhah kali ini berhasil mndorong perundingan Oslo 1993 menjadikannya di tangga prioritas.

Tahun 2000 meletus Intifadhah Palestina II yang disebut Intifadhah Al-Aqsha akibat pelecehan Sharon dan pendukungnya terhadap masjid Al-Aqsha. Setelah itu terjadi perpaduan antara OP dan presiden Arafat dan perlawanan Islam – Jihad Islami dan Hamas – dan Front Rakyat dan lain-lain. Intifadhah ini tanpaknya spontan untuk menjaga tempat suci Islam dari yahudisasi. Namun faktornya penyulutnya sudah ada.

Korban Intifadhah II sekitar 4500 korban syahid Palestina (selain korban agresi Israel antara tahun 2008 dan 2010). Dan Intifadah berlangsung hingga presiden Mahmud Abbas yang melakukan kerjasama keamanan dengan Israel dan Amerika.

Sekarang tahun 2010, unsur-unsur meletusnya Intifadhah Palestina III sudah mulai terhimpun, bukan saja karena faktor yang sama pada Intifadhah I dan II, tapi juga karena faktor rencana-rencana Israel meyahudikan tempat suci Islam khususnya masjid Al-Aqsha. Apalagi tanda-tanda rencana Tel Aviv untuk membangun pemukiman yahudi dengan mencaplok Tepi Barat sudah terang-terangan.

Perbedaan Intifadhah I, II dan III

Intifadhah I terjadi di tengah penjajahan Israel secara penuh terhadap Tepi Barat dan Jalur Gaza dengan rencana yang sangat sistematis dari pimpinan perlawanan Palestina Abu Jihad (Fatah), Hamas (Syekh Yasin) dan hanya menggunakan senjata batu. Hasilnya, perundingan digelar dengan Israel dan lahir Otoritas Palestina.

Intifadhah II terjadi di tengah pemerintahan otoritas Palestina yang akhirnya sadar bahwa Israel terus melanjutkan pencaplokan dan yahudisasi Al-Quds dan hanya menggunakan Olso sebagai hipnotis sikap Palestina dan cela untuk normalisasi dengan dunia Arab dan Islam.

Senjata Intifadhah kali ini adalah peluru tajam hingga berakhir pada penguasaan kantor kepresidenan Arafat dan Tepi Barat oleh Israel hingga sekarang.

Sementara Intifahdhah III yang kita bicarakan sekarang, faktor-faktor meletusnya sudah terhimpun dari faktor Intifadhah I (penjajahan Tepi Barat, penyerangan, penangkapan, pembunuhan dan agresi dua kali ke Jalur Gaza) dan faktor Intifadhah II, yakni; penistaan terhadap Al-Aqsha.

Disamping itu juga adalah dua faktor lainnya:

1. Rencana Israel menggerebek masjid Al-Aqsha oleh Israel untuk memberikan kesempatan yahudi menggelar di sana dan membagi masjid ini menjadi dua; untuk umat Islam dan Yahudi. Rencana Israel dimulai dengan mencaplok 138 peninggalan yang kebanyakan dari Islam, termasuk masjid Ibrahimi dan rencana-rencana penghancuran Al-Aqsha dan pembangunan mitos kuil pada 15 dan 16 Maret ini.

2. Mundurnya sikap Amerika dalam menekan Israel dan berlanjutnya penolakan Palestina untuk masuk dalam perundingan karena dianggap membuang waktu dan tanpa syarat menghentikan pemukiman dan pelecehan terhadap tempat suci. Bahkan harian Cristian Sains Monitor melansir peringatakan presiden Israel Simon Perez kepada Mahmud Abbas bahwa jika menggantung perundingan damai maka itu akan menyulut Intifadhah III.

Karenanya, Eropa memaksa Abbas untuk masuk perundingan dalam rangka “colling down” Intifadhah III ini.

Dalam kunjungan Abbas terakhir ke Perancis, ada sambutan tidak biasa dari presiden Sarkozi yang mengatakan ada kabar gembira “prakarsa baru menghadapi perundingan yang dibekukan”. Disamping ia juga akan menekan Israel agar menghindari Intifadhah ini yang bisa jadi akan menghalangi rencana yahudisasi Israel terhadap tempat suci pencurian sejarah dan agama.

Abbas Tak Ingin Intifadhah III

Masalahnya, Intifadhah III kali ini tidak ada yang menggiringnya jika meletus spontan. Presiden Abbas menolaknya dalam sejumlah statemen bahkan meski dalam bentuk “aksi protes dan unjuk rasa damai”. Bahkan ada kekhawatiran Intifadhah ini akan dikubur oleh Israel bersama-sama dengan Otoritas Palestina dengan cepat.

Awal Februari lalu, ketika diwawancarai oleh TV Mesir Chanel I bahwa dirinya tidak ingin Intifadhah III di Tepi Barat karena itu akan menghancurkan apa yang tersisa di sana. Sebab di Tepi Barat hanya tersedia sedikit senjata untuk menghadapi Israel berbeda dengan Jalur Gaza yang dipenuhi oleh roket dan senjata lainnya.

Perlu diingat, ada indikasi Intifadhah ini meletus selama kekuasaan Abbas beberapa kali di Tepi Barat. Terutama sejak agresi Israel ke Jalur Gaza. Berkali-kali pasukan keamanan Palestina (yang dikendalikan Jenderal Dayton) terlibat berusaha mengubur upaya Intifadhah dan melerai pasukan Israel dan massa Palestina di Tepi Barat dan menangkap aktivis yang menggerakkannya.

Palestina Dalam Yang Mendidih

Indikasi sementara yang menggerakkan Intifadhah III kali ini adalah warga Palestina Dalam atau wilayah Palestina jajahan 1948. Yakni mereka yang berada di zona hijau dari gerakan Islam, pimpinan, tokoh di Al-Quds dan ulama-ulama Al-Aqsha. apalagi kali ini terkait dengan rencana menghadapi “negara yahudi yang bersih dari warga Arab Palestina” dan rencana pengusiran paksa warga Palestina Dalam ke Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Indikasi ini sudah muncul sejak tahun 2000 ketika Intifadhah Al-Aqsha meletus setelah Sharon menyerang Al-Aqsha. Pada saat itu warga Palestina Dalam yang jumlahnya lebih dari 1 juta mogok makan pada Oktober 2000 menentang kunjungan Sharon ke masjid Al-Aqsha. pada saat itu jatuh korban 7 jamaah dan 20 luka-luka. Ehud Barack berusaha mengecam tindakan berlebihan polisi Israel dan memberikan anggaran 4 milyar Shekal kepada warga Arab di Israel. Namun Ehud Barack jatuh dan Sharon menang pemilu. Kondisi kembali runyam hingga sekarang.

Berkali-kali bentrokan pecah di kota Ummu Fahm yang dikuasai oleh Gerakan Islam pimpinan Syekh Raid Shalah. Kini kecaman dan unjuk rasa di masjid al-Aqsha atas tindakan Israel menggali terowongan di bawah masjid, yahudisasi dan rencana jahat lainnya di masjid Ibrahimi. Apagali Syekh Raid dicekal Israel sejak 28 Februari. Ini semua menjadi pemicu Intifadhah III.

Perlu kami ingatkan; Intifahdh II pecah pertama kali di Palestina Dalam. Dari sana pindah ke Tepi Barat dan Jalur Gaza. Selain itu, Otoritas Palestina Abbas adalah lembaga pemerintah boneka yang tidak berdaya, lebih kepada otoritas keamanan daripada politik. Pada saat publik Palestina harus keluar melawan Israel karena penistaan terhadap tempat suci, maka otoritas ini harus memilih; bergabung dengan Israel melawan Intifadhah dan merugi dalam segala hal atau bergabung dengan Intifadhah untuk menyelamatkan diri.

Target Israel setelah itu adalah menekan Otoritas Palestina di Tepi Barat untuk menghalangi agar tidak bermain dengan ‘karet Intifadhah III’, namun dengan cara yahudisasi terhadap tempat suci di Al-Quds. Mungkin Israel tidak tahu intifadhah akan meletus dari Jerusalem (Al-Quds). Bisa jadi Intifadhah kali akan menentukan masalah Palestina sebab ia meletus dari Palestina Dalam dan Luar di wilayah jajahan tahun 1948 dan 1967 secara bersamaan. (bn-bsyr)

islamonline

Posted by Abul Ezz on 13.20. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0

0 komentar for �Intifadhah III�

Leave comment

dailyvid

FLICKR PHOTO STREAM

2010 BlogNews Magazine. All Rights Reserved. - Designed by SimplexDesign