Dilema Amerika dalam Krisis Turki – Israel
Analisana 10.05
Muhammad Said Idris
(El-Khaleej Emiret)
Diam-diam Amerika menyimpang krisis politik, atau lebih tepat krisis diplomasi. Ini akibat menegangnya hubungan dua sekutunya di Timur Tengah; Israel dan Turki. Ketegangan terjadi menyusul wakil PM Israel, Dany Alion secara sengaja menghina Dubes Turki di Tel Aviv dan mengancam presiden Turki Abdullah Gul agar menarik Dubesnya. Hubungan makin menegang pada saat Israel tidak meminta maaf.
Amerika mengandalkan hubungan dua sekutunya Israel – Turki karena dianggap mendasar bagi dukungan kepentingan Amerika di Timteng. Di sisi lain, hubungan itu untuk mendukung keamanan dan eksistensi Israel di kawasan tersebut. Karenanya, jika Amerika melakukan intervensi kepada salah satunya akan menimbulkan dampak negative, baik dalam hubungan dengan Israel atau Turki. Pilihan ideal bagi Washington adalah diam. Meski begitu, Amerika tanpa mendorong Israel agar segera mengatasi krisis tanpa menimbulkan blok baru yang menghimpun Turki, Iran dan negara-negara Arab lainnya yang bisa membahayakan kepentingan Amerika dan menggagalkan proyek Amerika. Termasuk proyek perdamaian konflik Palestina – Israel. Amerika jangan sampai peran penting Turki mendukung kepentingan Amerika atau jangan sampai Israel terputus dalam hubungannya dengan negara-negara Timteng.
Meski pemerintah Israel berhasil mengekang krisis dengan cara memaksa Danny Alion untuk meminta maaf melalui surat resmi kepada Ahmad Ago Chelkol Dubes Turki di Tel Aviv, dan meski Turki menerima permintaan maaf itu dan Ehud Barack, Menhan Israel berkunjung ke Turki menyampaikan secara lisan, meski Wajdi Jocsel Menhan Turki menegaskan “kami bertetang dan memiliki kepentingan bersama”, namun akar ketegangan masih ada. Tidak ada yang menjamin Washington bisa meredam hubungan kedua sekutunya sesuai dengan yang diinginkan.
Memang, PM Turki Recep Taeb Erdogan menyatakan menerima permintaan maaf Israel secara resmi. Namun ia menolak bertemu dengan Menhan Israel ketika berkunjung ke Ankara. Hal yang sama dilakukan Presiden Abdullah Gul dan Menhan Turski Elkir Bashbosh. Erdogan menyatakan tidak akan mengubah politiknya terhadap Israel selama tidak mengubah politik permusuhannya terhadap Palestina dan menolak perdamaian. Ia menegaskan, Ankara akan tetap membela kebenaran dan melawan kedlaliman. Ia menegaskan, bahwa krisis diplomasi dengan Israel mengungkap bahwa tidak ada yang boleh berani bermain-main dengan Turki. Lebih penting dari itu, sikap elit politik Turki itu mendapatkan respon positif luas dari kalangan cendikiawan Turki dan publiknya.
Pada saat lembaga HAM mengajukan tuntutan atas Ehud Barack dan meminta agar ia ditahan karena dianggap penjahat perang dan kemanusiaan di Jalur Gaza, kolumnis Murad Backer di harian Radical Turki menilai peringatan yang disampaikan presiden Abdullah Gul akan menarik dubesnya bisa ditafsirkan bahwa itu sebagai “akhir era keemasan Israel di kawasan regional kolumnis Sameh Adnier di harian Harayet menyampaikan hal senada bahwa tindakan akan semakin mengucilkan dirinya sendiri.
Bisa jadi sikap-sikap politik ini mengungkapkan perubahan hakiki dalam perpolitikan dan sikap publik Turki terhadap Israel. Namun di sisi Israel sendiri tidak ada perubahan. Israel tetap arogan. Tindakan Ailon hanya merespon gagasan langsung Menlu Israel Avidgor Lieberman yang bertemu dengan dubes-dubes Israel di luar negeri dan meminta untuk tidak lembek dalam bersikap dengan pihak luar negeri. Ini yang menuntun Ailon untuk semakin arogan meski sudah meminta maaf. Situs Yediot Aharonot melansir ucapannya bahwa “Anjing menggonggong kafilah berlalu, Israel keluar sebagai yang beruntung dalam kasus krisis Ailon dan hasilnya sekarang Turki akan lebih waspada dengan statemen-stamennya.” Sementara Lieberman menyatakan usai pertemuannya dengan Menlu Norwegia mengomentari krisis dengan Turki, “Kami berharap Turki menghormati Israel dan yahudi”.
Perkembangan-perkembangan selanjutnya akan mengungkap hakikat sebenarnya dalam hubungan Turki dengan Israel. Namun Amerika tetap tidak mampu melakukan perannya secara serius meredah ketegangan. Artinya tantangan Washington di kawasan regional makin bertumpuk. (bn-bsyr)