Perlawanan Seperti Apa yang Dibutuhkan Bangsa Palestina
Analisana 05.51
Khalid Maali
Belakangan, terjadi polemik soal perlawanan seperti apa yang dibutuhkan oleh Palestina saat ini. Polemik makin kencang setelah komandan Fatah dan tahanan Marwan Bargoti meminta agar mengawinkan (kombinasi) efektif antara perundingan antara jalan perundingan dengan perlawanan yang legal. Apalagi setelah gagalnya program perundingan dengan Israel yang bertujuan mendirikan negara Palestina dan kemarahan besar rakyat Palestina terhadap Netanyahu dan politiknya yang menolak hak Palestina.
Israel berusaha ingin memperpanjang umurnya dengan terus melanjutkan pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat dan yahudisasi Al-Quds di tengah absennya tekanan dunia dan Amerika terhadap Israel. Amerika yang berjanji akan mendirikan negara Palestina tidak pernah memenuhi janjinya dengan alasan negara-negara Arab dan Islam tidak ada aksi menekan yang cukup. Justeru Amerika menilai kepentingannya tidak akan terganggu jika berpihak terus menerus kepada Israel. Ini semua menjadikan Palestina sendirian menghadapi nasibnya. Dalam kondisi seperti ini, para analisis menegaskan, pintu terbuka bagi kembalinya perlawanan terhadap Israel dengan berbagai bentuknya untuk menghentikan mundurnya issu Palestina.
Pengalaman Palestina dengan Israel, cara dan sarananya sangat beragam. Setiap cara dilakukan sesuai kebutuhan Palestina. Ini dilakukan agar Israel paham bahwa penjajahannya menjadi beban, tidak menyenangkan dan ada harganya. Perlawanan damai dan perlawanan kekerasan masih menjadi polemik di kalangan tokoh Palestina. Mana yang lebih efektif dalam memaksa Israel mengakui hak-hak bangsa Palestina (yang mengungsi) untuk kembali dan mendirikan negara merdeka.
Tak seorang pun akan membantah bahwa bangsa manapun ketika ada penjajahan terhadap negeri mereka maka akan ada reaksi massa yang murka. Inilah awal mula perlawanan sebagai sesuatu yang bersifat fitrah dan spontanitas kebanyakan tanpa perencanaan seperti yang terjadi di Intifadhah pertama. Tugas tokoh dan pemimpin masyarakat adalah mengarahkan kekuatan rakyat ke arah yang benar untuk mencapai tujuan dan taget yang diharapkan dengan berbagai macam cara agar perjuangan mereka berkesinambungan.
Ujung tombak rakyat Palestina dalam hal ini adalah gerakan Fatah dan Hamas. Sebab kelompok kiri Palestina semakin lama semakin pudar karena tidak mampu menyesuaikan dengan perubahan lokal dan internasional. Hamas dan Fatah dalam sejarahnya menggunakan berbagai macam sarana namun keduanya menunjukkan perbedaan sebagaimana wajarnya manusia. Kecuali, sejumlah kejadian yang menyayangkan di luar etika perbedaan dan kerja perlawanan.
Dalam rahim eksperimen Palestina, semua menyadari bahaya perpecahan Palestina yang berkelanjutan dan program yang ditegakkan bagi bangsa jauh dari kesepakatan dan rekonsiliasi.
Seharusnya semua upaya Palestina disatukan untuk membalas kejahatan Netanyahu yang tidak membedakan faksi Palestina manapun dalam perjuangan. Ada yang berpendapat, kelompok perjuangan perlawanan yang peka dan terorganisir yang akan mengarahkan pada fase yang bisa mengkombinasi antara perlawanan damai dengan kekerasan dengan disepakati dan memuaskan semua pihak di Palestina sesuai dengan sarana dan kemampuan serta alternatif yang ada.
Mereka yang menyerukan perlawanan rakyat damai adalah Mustafa Barghoti dan tahanan Marwan Barghoti yang menilai bahwa perimbangan kekuatan tidak memungkinkan perlawanan kekerasan dan bersenjata di Palestina. Sebab akan menimbulkan banyak penderitaan bagi rakyat Palestina. Sementara penganut perjuangan perlawanan bersenjata menilai Israel tidak memahami selain bahasa kekuatan dan cara inilah yang memaksa Israel menarik diri dari Libanon dan Jalur Gaza.
Polemik ini tidak perlu menimbulkan kebencian dan kedengkian serta saling tuding. Namun dua cara ini bisa dilakukan sesuai dengan fase yang ada.
“Intifadhah batu” harus tetap dipelajari dan dievaluasi ulang sebagai sebuah karya khusus bangsa Palestina yang mampu memaksa kekuatan lalim.
Akhirnya, semoga semakin gencarnya Netanyahu dalam pembangunan permukiman dan yahudisasi Al-Quds bisa mendorong persatuan barisan Palestina. Seperti yang pernah terjadi pada diri Yaser Arafat. Dimana pada saat itu Israel menolak pendirian negara Palestina sesuai dengan kesepakatan dan meletus Intifadhah Al-Aqsa. Yang paling bermanfaat saat ini adalah persatuan Palestina dari seluruh komponen dan kelompok sebelum semunya ditelan oleh proyek permukiman dan yahudisasi Netanyahu. (bn-bsyr (www.infopalestina.com/ms)